Saturday, July 11, 2009

YANG TERPILIH

Meskipun hasil Pilpres kemarin belum secara resmi diumumkan siapa pemenangnya karena KPU belum 100% menyelesaikan perhitungan manualnya, tetapi dari hasil quick count yang tentu saja lebih quick, kita semua sudah bisa melihat hasil sementara dimana SBY Ber-Budi menduduki peringkat pertama dengan pemilih terbanyak. Lebih dari 60% pemilih telah menentukan pilihannya kepada Pak SBY dan pasangannya. Dari hasil ini tentu saja bisa kita lihat bahwa Pak SBY akan siap me-LANJUTKAN kepemimpinannya 5 tahun ke depan. Tentu saja sudah bisa diperkirakan bahwa langit Indonesia 5 tahun ke depan akan dominan berwarna biru dengan sedikit warna merah dan kuning. Sekarang Indonesia juga tinggal menunggu terpenuhinya janji dari beliau yang terpilih. Semoga beliau bisa menjadi pemimpin yang amanah, dapat dipercaya, dan tetap bersahaja. Kemudian dari hasil quick count itu kita juga bisa mengetahui bahwa Bu Mega akan kembali ke partainya, sesuai dengan apa yang diungkapkannya pada acara Debat Capres Babak Terakhir yang lalu. Apakah PRO RAKYAT akan berubah menjadi pro partai? Lain lagi halnya dengan Pak JK. Hasil Pilpres kemarin sungguh di luar dugaan, karena ternyata yang memilih beliau jauh di bawah perkiraan yang selama ini diharapkan. Tidak ada seperlima pemilih yang menetapkan pilihannya pada Pak JK dan pasangannya. Dengan demikian apakah pak JK akan LEBIH CEPAT (LEBIH BAIK?) pulang kampungnya? By the way, di atas semua itu, we have to appreciate him... Mari kita berikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pak JK atas kontribusi yang telah diberikannya selama ini kepada Indonesia Raya tercinta. Walaupun bagaimana, beliau masih wapres kita sekarang, yang telah mengbdikan diri sepenuhnya untuk bangsa dan negara selama 5 tahun terakhir. Kita tidak boleh melupakan jasa beliau kan?

TENTANG DUA CINTAKU

Yang pertama, nama lengkapnya HANAN DZAKY MIFTAHUR RAFI. Aku biasa memanggilnya Mas Hanan. Bulan ini dia genap 4 tahun. Anak pertamaku, jagoan. Usia 9 bln sudah bisa berjalan dan bicara. Bahkan kalau sudah bicara, cerewetnya bukan main. Tahun ini TK kecil. Pinter, ganteng, walaupun masih putih, tapi sekarang kulitnya tidak seputih dulu ketika belum mengenal "dolan", berlarian kesana kemari dan bermain di bawah terik matahari. Kalau sudah pengin dolan, susah banget buat dilarang. Belakangan ini malah sudah beberapa kali dia berusaha "bohong" sama mamanya. Bilang sama mamanya, mau ke dapur cuci tangan, eh, nggak taunya pergi dolan lewat pintu belakang. Bilang sama mamanya mau nutup pintu samping, eh, tau-tau sudah berlari-larian di halaman rumah temennya. Bilang sama mamanya pengin tidur siang, eh, nggak taunya sudah keluar lewat jendela. Banyak akalnya... Duuh, anak seusia dia memang lagi bandel-bandelnya. Trus ada satu hal yang aku kurang suka darinya. Manjanya minta ampun. Apalagi kalau sudah minta sesuatu, pasti harus dituruti. Yang terbaru, dia minta dibelikan PS! Gubrak!!! Anak sekecil itu minta PS? Dia bahkan berusaha keras meyakinkanku bahwa dia sudah bisa main PS dengan mengajakku ke rumah temennya yang sudah berusia 7 tahun yang punya PS di rumahnya. Dan di luar dugaanku, dia membuktikan padaku kalau dia memang bisa... Kemudian dengan keras pula dia berjanji tidak akan malas belajar setelah nanti punya PS. Untung saja mamanya juga tak kalah akal untuk sebisa mungkin menunda keinginannya itu sampai nanti tiba waktu yang tepat. Mau tahu caranya? Rahasia dong... Yang kedua. Nama lengkapnya NAFISA ASY-SYAKIRA KHAIRUNNISA. Aku biasa memanggilnya Genduk Fisa. Anak keduaku, adiknya Mas Hanan. Sekarang dia 1,5 tahun. Cerdas, cantik, dan kemayu seperti mamanya. Bisa berjalan tepat di usia 12 bulan dan baru bisa bicara di usia 15 bulan. Meskipun baru saja bisa bicara, kata-katanya sudah sangat jelas dan mudah dimengerti pendengarnya. Kosa katanya juga sudah sedemikian luar biasa banyaknya. Cerewetnya-pun mampu menyaingi kecerewetan si kakak. Bahkan sekarang ini dia punya hobby baru, menyanyikan lagunya Mbah Surip, meskipun cuma 1 bait. " Ta gendong kemana-mana.. Enak to.. Mantep to.." Meskipun masih sekecil itu, dia juga sudah memiliki tanda-tanda anak yang rajin dan tidak malas bekerja. Kalau mamanya sedang mengerjakan sesuatu, dia maunya pengin membantu. Dia paling enggak bisa melihat lantai kotor, karena setiap kali melihat lantai kotor, pasti selalu diambilnya sapu. Kalau mamanya minta tolong si kakak untuk mengerjakan sesuatu, justru dia yang lebih dulu "beraksi". Merekalah... Dua Cintaku...

Thursday, July 9, 2009

TIPIKOR (PART 3)

Sistem hukum negara kita telah memberikan aturan yang sangat ketat bagi para pelaku tipikor. Bahkan ancaman hukuman bagi koruptor di Indonesia termasuk salah 1 yang paling kejam di dunia. Tetapi mengapa korupsi terus saja terjadi. Bahkan Indonesia termasuk urutan ke-4 negara terkorup di Asia. Hal itu karena: 1. Tergantung dari moral dan perilaku para penegak hukum. 2: Sistem reward yang tidak sesuai dengan beban kerja si penegak hukum. 3: Antusiasme masyarakat masih kurang, bahkan malah cenderung skeptis.

TIPIKOR (Part 2)

Boleh dikatakan, korupsi merupakan suatu perilaku yang menyimpang, sekaligus suatu sistem yang buruk/gagal. Tindakan apa saja yang termasuk tindakan pidana korupsi (TIPIKOR)? Menurut UU No.31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo UU No.20/2001, ada 30 macam tipikor yang terbagi dalam 7 kelompok/delik, yaitu: merugikan keuangan negara, suap menyuap, penggelapan dalam jabatan, perbuatan pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan barang/jasa pemerintah, dan gratifikasi.

TIPIKOR

Corruption is an extra ordinary crime. Korupsi merupakan suatu kejahatan yang luar biasa. Korupsi bagaikan fenomena gunung es. Yang terlihat hanya yang di bagian puncak saja, yaitu yang berada di atas permukaan laut. Padahal itu hanya sebagian kecil saja. Yang sebagian besar justru berada di bagian bawah, yaitu yang terletak di bawah permukaan laut. Lalu MENGAPA SESEORANG MELAKUKAN KORUPSI? Pertama: ada hasrat/niat. Kedua: ada abillity/skill. Ketiga: ada kesempatan. Keempat: ada target/sasaran.

Wednesday, July 8, 2009

NYONTRENG

Ups.. Tanggal 8 Juli 2009... Sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, saya telah menggunakan hak pilih untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin Indonesia Raya tercinta ini 5 tahun ke depan. Boleh dikatakan saya bisa berkata dengan bangga "Saya sudah nyontreng". Sebab buat saya, ini bukan semata-mata merupakan hak kita untuk ikut menentukan nasib bangsa ini di masa datang, tapi sekaligus kewajiban moral kita sebagai warga negara. Itu juga kan salah satu yang bisa kita perbuat untuk negeri tercinta ini? So, kalau kita bisa, mengapa kita tidak lakukan? Kemudian siapapun pasangan yang akan kita pilih, itu tergantung dari hati nurani, keyakinan, dan "selera" masing-masing. Ada yang seneng "pro rakyat", ada yang demen "lanjutkan" dan ada yang suka "lebih cepat lebih baik". Yang penting kita bisa saling menghargai adanya perbedaan pilihan itu dan bisa saling menghormati satu sama lain. Dan yang lebih penting lagi, yang paling penting di antara yang penting, ayo kita datang ke TPS, kita contreng mana yang kita pilih, lalu pulang... It's easy kan? Simpel... Nah, setelah nanti diketahui siapa pemenang dari pemilihan ini, marilah kita ucapkan selamat kepada yang menang. Semoga beliau pasangan ini bisa menjadi pemimpin yang amanah, yang mencintai negeri ini, yang menyayangi rakyatnya, sehingga akan dengan tulus iklas melakukan apa saja yang terbaik buat yang dicintai dan disayanginya. Dan kepada yang belum menang, jangan kecewa, jangan putus asa, dan jangan ada dendam, karena masih banyak yang bisa Anda lakukan untuk Indonesia Raya tercinta ini. Selamat...

Pemimpin di Mataku (Part 4)

Selama kurang lebih 3 (tiga) tahun bekerja di sebuah instansi pemerintahan yang menangani urusan kepemudaan, keolahragaan, kebudayaan, dan kepariwisataan, aku sudah mengalami 3 (tiga) kali masa kepemimpinan. Dari 3 pemimpin tersebut, tentu saja aku bisa merasakan dan menilai tipe kepemimpinan dan sifat masing-masing dari beliau. Mulai dari tipe yang "mengambil sesuai porsinya" dengan tetap mengedepankan tanggung jawab serta memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Kemudian tipe yang sederhana, tidak neko-neko, tapi sekaligus tidak berani mengambil resiko. Sampai akhirnya ada juga yang menurutku lebih mirip "kapal keruk", yang hanya mengambil sebanyak-banyaknya, sementara tanggung jawab dikesampingkan. Bahkan kalau boleh terus terang, beliau yang satu ini ibarat peribahasa, "tong kosong nyaring bunyinya", benar-benar kosong, wawasan dan pengetahuan yang berkaitan dengan urusan yang ditanganinya sangatlah minim. Parahnya, tidak ada sedikitpun keinginan beliau untuk belajar, karena yang ada di isi kepala adalah bagaimana mendatangkan keuntungan sebanyak-banyaknya buat diri sendiri. Oh My God, kemana kapal ini akan dibawa jika nahkodanya seperti itu? Bagaimana pemuda disini bisa maju, bagaimana olah raga bisa juara, bagaiman kebudayaan bisa lestari, dan bagaiman pariwisata bisa berkembang jika pemimipinnya hanya memikirkan keuntungan diri sendiri?